Selasa, 27 Oktober 2020

Bedah Buku "Trust Me I am a writer"

"Pantang menyerah dan berihktiar serta bersabar dalam menulis" 
(Arnita Adam)

Begitu banyak ide yang muncul di pikiran,  ingin sekali kita menuliskannya lalu kata demi kata kita rangkai menjadi kalimat seterusnya menjadi paragraf dan akhirnya menjadi sebuah tulisan.  

Namun  untuk menjadi sebuah tulisan seringkali kita mendapati hambatan dan rintangan sehingga membuat tulisan itu selalu kita tunda-tunda untuk menyelesaikannya dan akhirnya tulisan itu tidak pernah selesai menjadi sebuah tulisan.  

 Hambatan dalam menulis bisa saja datang dari mindset kita sendiri.  Misalnya dari segi waktu dimana saat itu kita begitu sibuk dan kita tidak bisa membagi waktu untuk menulis, sekali lagi jangan katakan sibuk sebagai alasan untuk tidak menulis karena terkadang tulisan selesai dikerjakan disaat kamu benar-benar sibuk dan disaat deadline sudah pada detik-detik terakhir. 

Bisa juga hambatan datang seperti kejadian pada kak April.  Dimana beliau merasa tidak punya bakat dan bla bla bla namun berkat keteguhan hati beliau dan terus belajar serta berjuang dengan membuat tulisan yang ikutkan dalam lomba, sehingga dengan sendirinya tulisan tulisan beliau  semakin berkualitas. Sehingga muncul rasa optimis dan rasa syukur serta kesungguhan beliau dalam menghasilkan karya yang memenangi berbagai lomba.  Bunda Muda April merupakan salah satu Role Model menjadi seorang penulis.     Dari sekarang mari kita bangun mindset yang positif dan optimis


 Terkadang juga masalah yang timbul seperti kejadian kepada saya yakni hilangnya tulisan yang dibangun dari awal dan hingga rampung akibat laptop diinstal ulang dan tidak dikopi atau tulisan kita ketik di HP Lalu Hp error membuat tulisan itu betul-betul hilhilang.
Nah disitu kita akan dihadapkan pada 2 pilihan mau berhenti atau masih mau mengulangi tulisan seperti cerita pendek  dalam  buku "Trust me I am a writer" pada halaman 40 yang berjudul “Melatih Kesabaran”  apabila kita berputus asa maka tulisan itu akan berhenti dan hilang kemudian tidak akan menjadi apapun tetapi ketika kita  tidak menyerah  memulainya dari awal akhirnya tulisan itu  selesai juga tentunya setelah bermunajat kepada Allah agar hati dikuatkan untuk menyelesaikan tulisan tersebut.

Sabtu, 10 Oktober 2020

Review Novel Dia Suamiku

  Lelaki bijaksana itu suamiku


 Judul                   : Dia Suamiku
 Penulis                : Reni Juniarti
 Penerbit              : CV biru Magenta media
 Tahun terbit        : Maret 2020
 Jumlah halaman : 311

 Dia suamiku sebuah novel Romance. Ketika Cinta telah ditakdirkan  tak ada seorangpun yang dapat memisahkan, dengan solusi agama Islam semuanya  berakhir dengan seimbang dan sejalan.

 Kisah novel ini menceritakan seorang gadis belia bernama Rindu, dalam hidupnya hanya mencintai Allah dan mencintai orang tuanya namun ketika takdir dan jodoh  dihadapkan kepadanya, Mampukah iya memilih jalan yang terbaik dan yang paling adil untuk 2 orang yang  mempunyai hubungan darah, dan  kedua lelaki tersebut sama- sama  mencintainya.

 Kisah cinta  yang penuh  konflik dimana antara dua lelaki,  ayah dan anak sama-sama mencintai orang yang sama yakni Rindu.    Permasalahan semakin menarik tatkala sang ayah  berhasil memperistri Rindu. Yang di skenario oleh takdir.
 Sang gadis Pasir Pengaraian itu menjunjung tinggi nilai-nilai agama Islam dimana setiap perempuan yang telah menikah dengan seseorang, maka anak-anaknya itu akan menjadi mahram bagi  perempuan tersebut.

 Dilema semakin membara antara ayah dan anak saling ingin memperebutkan cinta gadis tersebut sehingga mereka berdua sama-sama saling mencari perhatian agar bisa mendapatkan perhatiandan cinta tulus Rindu.
 Di sisi lain Rindu sangat taat dengan kaidah Islam di mana beliau harus patuh tunduk dan  kepada suami selama suami  berada di jalan  yang diridhoi Allah.

  Setelah menikah dengan sang ayah Rindu merasa bersalah bila dicintai orang lain terlebih lagi dicintai oleh anak kandung dari suaminya. Hal itulah yang membuat permasalahan menjadi rumit dan sekaligus menjadi unik.

Begitu gigih Rindu meyakinkan kepada  anak tirinya bahwa  cinta antara mereka adalah cinta terlarang, Jadi mereka harus kembali kepada fitrah masing-masing, dimana seorang anak tiri telah menjadi muhrim bagi Ibunya yang telah dinikahi ayahnya akhirnya dengan kegigihan gadis itu sang anak mau  mendengar nasehat sang ibu tiri terlihat dalam halaman 109   “Akhirnya Bang Bagas benar-benar berubah dia menepati janjinya hampir 3 bulan sejak kejadian itu kami hanya bertemu di meja makan waktu sarapan dan makan malam itu pun hanya sebentar dia pasti lebih dulu selesai dan meninggalkan meja makan duluan”

 Nah itu kutipan dari sadarnya   seorang anak tiri yang mencintai gadis yang dinikahi bapaknya.

Novel ini juga mengangkat bahasa lokal di mana beliau tinggal di daerah Melayu maka disini sering kita jumpai bahasa Melayu namun karena bahasa Melayu memang sangat berkorelasi dengan bahasa Indonesia jadi tidak masalah untuk dimengerti. 
Tak lupa pula penulis  mengangkat kebudayaan- kebudayaan lokal misalkan saja saat beliau terjebak di dalam sebuah supermarket di mana sedang terjadi perkelahian dan gadis belia itu turun tangan kemudian  memberitahu bahwa  ada kebudayaan lokal yang masih hidup  di daerahnya seperti tertulis di halaman 176. Aku sudah belajar silat sejak kelas 1 SD silat dalam bahasa melayu Rokan Hulu disebut silek.  Hampir semua jurus-jurus silat aku kuasai, mulai dari silek Melayu atau silek tigo  bulan, silat ini sering juga disebut silek kampuong, silek tondan, silek sendeng,  silek gajah bojuang, silek thariqat yang didirikan di Tanah Putih. 


Kisah ini semakin menarik dengan hadirnya seorang tokoh antagonis Kania yang mempunyai karakter bermuka dua dan pandai bersilat lidah. Ditulis  dalam alur maju mundur membuat novel ini semakin asyik untuk dibaca berulang-ulang. 

 Penulis sangat  mengagung-agungkan sebuah kehidupan yang harmoni serta berlandaskan syariat Islam akhirnya dengan solusi ajaran Islam semua bisa menerima kenyataan.  Baik Bagas sebagai anak tiri yang mencintai sang gadis maupun sang suami sebagai ayah yang mencintai sang Rindu sebagai istri. Meskipun ada ada satu dua  kata yang typo sama sekali tidak mengurangi nikmatnya membaca novel ini.  Saya sarankan novel ini tidak untuk dibaca anak berusia di bawah umur 17 tahun.

 Review oleh  Arnita Adam pada tanggal 10 Oktober 2020

Senin, 09 Desember 2019

UMROH NYAMAN BERSAMA TRAVEL YANG TERPERCAYA

Tingginya animo masyarakat Indonesia untuk melaksanakan ibadah umroh menjadikan setiap biro perjalan umroh berlomba-lomba untuk memberikan pelayanan terbaik.   Meskipun begitu masih tetap saja ada travel Umroh yang tidak bertanggung jawab.

Untuk itu para calon jamaah umroh perlu berhati-hati dalam memilih travel untuk memberangkatnya ke tanah suci.

 Himbauan pemerintah Indonesia untuk memilih travel Umroh yang terpercaya dan bertanggung jawab dengan memantikan hal-hal berikut ini, antara lain ; pastikan agent travel memiliki izin yang sah, pastikan fasilitas yang diberikan, mulai dari keberangkatan, transportasi, akomodasi, agar kita dapat beribadah dengan nyaman.
Pastikan visa sudah ditangan sebelum keberangkatan.

Ingin lebih jelas silahkan baca buku Perjalanan Umroh Inspiratif


Seuntai Hikmah Menulis

Seuntai Hikmah 

·       Ketika musibah datang hendaklah diambil hikmahnya agar musibah menjadi mudah dilalui. 
·       Melatih kesabaran tidak mudah namun ketika kita berusaha meraih sesuatu dengan kesabaran, akan berhasil dengan berkah 
·       Bila datang musibah jaganlah mengeluh karena mengeluh artinya kalah. 


  Itu lah seuntai Hikmah Yang aku petik saat menulis buku My Empress from the Past











Add caption
    

Jumat, 15 November 2019

Puisi Pasaman

EMPAT MENIT MENUJU JUMAT 15 NOVEMBER 2019, PUKUL 23:59 WIB)

DAFTAR PENGIRIM NASKAH PUISI PER 15 NOVEMBER 2019, PUKUL 23:55 WIB

1. Soetan Radjo Pamoentjak (Bukittinggi)
2. Dhilar Sikoembang (?)
3. Rizkia Hasmin (Rao-Pasaman)
4. Elipsis (Berebes)
5. Ramli Jafar (Padang)
6. Rezqie.M.A.Atmanegara (Kalimantan Selatan)
7. Sri Wahyuni Utami (Mojokerto)
8. Refdinal Muzan (Bukittinggi)
9.I Ketut Aryawan Kenceng (Klungkung-Bali)
10.Anisa Amelia (Majalengka-Jawa Barat)
11.Maulidan Rahman Siregar (Padang Pariaman)
12. Muhammad De Putra (Pekanbaru-Riau)
13. Abi N.Bayan (Morotai-Maluku)
14.Wahyuni Firma Aulia (Pesisir Selatan)
15. Nur Aisyah (Lubuksikaping)
16. Novik El Koto (Bukittinggi)
17. Prof.Shafwan Hadi Umry (Medan)
18.Sospriyani (Dharmasraya)
19.Lismomon Nata (Padang)
20. Iman Sembada (Depok)
21. Yulia Defitri (Agam)
22. Leni Aprina (Pekanbaru)
23.Sulthan Indra Muhidin (Pesisir Selatan)
24.Ujang Saepudin (Cianjur-Jawa Barat)
25.Maryam Syarief (Bukittinggi)
26.Ahlul Hukmi (Dumai)
27.T.Wijaya (Palembang)
28.Icamp Dompas (Pelalawan)
29.Marsia Anita (Pelalawan)
30.Muhammad Daffa Alfajri (Pelalawan)
31.Fera Susanti (Pasaman Barat)
32.Pusfi Devi (Pelalawan)
33.Sultan Musa (Samarinda)
34. Arif P. Putra (Pesisir Selatan)
35.Tantawi Panggabaean (Padang Sidimpuan)
36.Lasurdin L. Madelis (Morotai-Maluku Utara)
37.Mardiyati Artrasyeid (Bonjol)
38.Nofa Asmara (Bukittinggi)
39.Mintarsih Mimin (Lampung)
40.Raden Rita Maimunah (Padang)
41.Budi Hatees (Padang Sidimpuan)
42.Abdee Salik (Jawa Timur)
43.Joni Hendri (Pekan Baru)
44.Rapina Semesta (Pekanbaru)
45.Randu Sunerta (Pesisir Selatan)
46.Siti Maulid Dina (Medan)
47.Suhartini (Sulawesi Selatan)
48.Eddy Pramduane (Depok)
49.Rion Albukhari (Pesisir Selatan)
50. Kunni Masrohanti (Pekanbaru)
51.Hafidz Hafidzah (Bukittinggi)
52.Nelli Gusmita (Agam)
53.Rahem (Sumenep)
54.Andria Catri Tasmin (Padang)
55.Isbedy Setiawan Zs (Lampung)
56.Hamzah Hamdan (Johor-Malaysia)
57.Faris Al Faisal (Indramayu)
58.Dian Ramadhan (Tambilahan)
59.Siamir Marufalau (Medan)
60.Titin Ulpianti (Lampung)
61.Metria Eliza (Lintau)
62.Trifuji Anggara (Riau)
63.Berlian Fernando Putra (Bonjol)
64.Nasaktion Efry (Padang Sidimpuan)
65.Rosid (Deli Serdang)
66.Indrawati Sugiatiningsih (Batam)
67.Ihsan Subhan (Cianjur)
68.Aal Rahim Sekha (Kampar Kiri)
69. Hendri Efendi ( Simpati-Pasaman)
70. Dede Putra ( Bukittinggi)
71.Zelfia Khairani ( Bukittinggi)
72.Abdul Muis (Bagan Siapi Api)
73.Khudri Anwar (Bagan Siapi Api)
74.Meliza Dewi (Bagan Siapi Api)
75.Mukhlis Muarif (Bagan Siapi Api)
76.Chancan Parase (Batam)
77.Delia (Bandung)
78.Sepno Fahmi (Pesisir Selatan)
79.Siti Romlah (Jawa Timur)
80.Dandi (Bonjol)
81.Rasyidin (Aceh)
82.Siska Juniara (Bonjol)
83. Nurhayati Zarah (Pekanbaru)
84.Roso Titi Sarkoro (Temanggung)
85.Rafi (Bagan Siapi-Api)
86.Wanda Lesmana (Palembang)
87.Erlina (Kepri)
88.Asmarefni (Sijunjung)
89.Mahdi Idris (Aceh)
90.Bunda Swanti (Rokan Hilir)
91.Gusmita Safitri (Tanah Datar)
92.Denni Meilizon (Pasaman Barat)
93.DM.Ningsih (Riau)
94.Syafaruddin Marpaung (Tanjung Balai)
95.Hendra Bonjo (Bonjol)
96.Evi Bonjo (Bonjol)
97.Yulfadma (Bukittinggi)
98.Rusdi Zaki(Surabaya)
99.D.Iskandar (Riau)
100.Daffa Ahmad Iskandar (Riau)
101.Dary Syafiq Iskandar (Riau)
102.Aisyah Susanti (Riau)
103.Inderiyeni (Riau)
104.Undani (Sorong)
105.Firman Wally (Ambon)
106.Muhammad Mukarom (Gresik)
107.Sulaiman (Riau)
108.Romy Sastra (Jakarta)
109.Putri Bungsu (Jawa Tengah)
110.Irma Isra Hayati (Bonjol)
111.Siti Salmah (Pekanbaru)
112.Jek Atapada (Kupang)
113.WS.Djambak (Pekanbaru)
114.Lotus (Jember)
115.Irsyad (Kediri)
116.Ema Afriyani (Bintan)
117.Nur Halimah (Padang Panjang)
118.Dr.Hermawan An (Padang)
119.Mohd.Rosli Hj Bakir (Johor-Malaysi)
120.Mashudi Bahari (Perak-Malaysia)
121.Win Ansar (Aceh)
122.Ami Khairunnisa(Medan)
123.Uly Oktavia (Rohul)
124.Rofqil Junior (Sumenep)
125.Ryan Syhputra (Bukittinggi)
126.Yoevita Soekotjo (Jakarta)
127.Zain Munfashil (Sumenep)
128.Riri Satria (Jakarta)
129.Hendry Azhary (Padang Sidempuan)
130.Joel Pasbar (Pasaman Barat)
131.P. Nuraeni (Jawa Barat)
132.Muhammad Arif (Pesisir Selatan)
133. Wardah Az Zahra (Pamekasan)
134.Dian Rennuati (Palembang)
135.Saripuddin Lubis (Binjai)
136.Jonson Efendi (Palembang)
137.Muhammad Ridlo (Bandung)
138.Chie Setiawati (Singapura)
139.Dinda (Bonjol)
140.Putri Marsya Awaliyah (Pelalawan)
141.Puja Islami (Bonjol)
142.Teddy (Lubuksikaping)
143.Hasririn (Tanah Datar)
144.Kurliadi (Madura)
145.Mihar Harahap (Deli Serdang)
146.Leenda Madya (Semarang
147.Muhammad Subhan (Padang Panjang)
148.Faidi Rizal Alief (Sumenep)
149.Muthia Arrahmah (Jambi)
150.Chairul Hidayat (Bagan Siapi Api)
151.Adhiet Ritonga (Tanjung Balai)
152.Muhammad Raudah Djambak (Medan)
153.Barokatus Jeh (Indramayu)
154.Jumari Hs (Kudus)
155.Laila Gustina (Agam)
156.Roymon Lemosol (Ambon)
157.Aris Setiyanto (Temanggung)
158.Amy Mastura (Bonjol)
159. Srie Astuty Asdi (Makassar)
160.Asqo L. Fatir (Banten)
161.Dian Namira (Medan)
162.Alvin S. Vatrick
163.Rahmi Salsabila ( ? )
164.Imam Rosyadi Mahmudi (Banten)
165.Alang Dilaut (Kepri)
166.Viddy (Lamongan)
167.Ruhan Wahyudi (Sumenep)
168.Akbar (Medan)
169.Nia Ermawati (Pasuruan)
170.Rini Susanti (Bonjol)
171.Feni Efendi (Payakumbuh)
172.Sujarno (Langkat)
173.Suyatri Yatri (Rohul)
174.Arnita Adam (Rohul)
175.Geti Oktavia Pulungan (Tapsel)
176.Maisarah Yaacob (Selangor-Malaysia)
177.Rina Rin (Pesisir Selatan)
178.Syaufi Anwar (Kepri)
179.Eli Arita (Rohul)
180.Muhammad Saroni (Mojokerto)
181.Nadi Harinsyah (Bengkulu)
182.Setangkai Angin (Makassar)
183.Rafki Imani (Padang)
184.Essy Febrianti (Pelalawan)
185.Yono DL (Bangko)
186.Tri Astoto Kodarie (Parepare)
187.Sri Ambarwati (Kendari)
188.Rita Delia Putri (Padang Panjang)
189.Samian Adib (Jember)
190.Bagus Yuarto (Bengkulu)
191.Febrisia (Padang)
192.Ramli Marpaung (Asahan)
193.Achiar M Permana (Semarang)
194.M.Nazri (Riau)
195.Umar Zein (Medan)
196.Berthold Sinaulan (Jakarta)
197.Jasman Bandul (Kep. Meranti)
198.Eko Raghiel Ar Rahman (Riau)
199.Titan Sadewo (Medan)
200.Ubai Dillah Al Anshori (Siantar)
201.Muhammad Ibrahim Ilyas (Padang)
202.Asro Al Muharthawy (Bangko)
203.Andrimar (Rokan Hulu)
204.Diana Rumondang Siregar (Medan)
205.Rizki Aldea (Medan)
206.Ramadhan Alhafiz (Hamparan Perak)
207.Giani Marisa (Banten)
208.Fatur Rahman (Pesisir Selatan)
209.Fetri Ramadhani (Pandai Sikek)
210.Irvan Syahril (Subang)
211.Cahaya Buah Hati (Pekanbaru)
212.Denaar (Bantul)
213. Ayoe SW (Kepri)
214.Dinda Permata Sihotang (Medan)
215.Buday AD (Sumenep)
216.Lili Asnita (Bukittinggi)
217.Mulyadi Putra (Padang Sikaduduak-Pasaman)
218. Sony Sirait (Medan)
219.Muhammad Sarjuli (Lampung)
220.Gilang (Medan)
221.Aisyah (Medan)
222.Afrienti Zozeka (Pesisir Selatan)
223.Muhammad Taufik (Pesisir Selatan)
224.Monda Gianes (Pekanbaru)
225.Willy Zikhri Asevone (Pesisir Selatan)
226.Edy Prayekno (Bengkulu)
227.Jayu Marsuis (Bengkulu)



Salam Puisi Dari Kampung Tuanku Imam Bonjol

Undangan Menulis Antologi Puisi
"Pasaman Dalam Puisi"

Pasaman adalah negeri asal Tuanku Imam Bonjol. Sungai, lembah dan perbukitan merupakan ciri utama bentang alam Pasaman. Ciri ini sekaligus jadi kekuatan pembentuk sejarah dan peradaban Pasaman. Lewat riak dan aliran sungai yang menyebar selingkar Pasaman, hal jauh menjadi dekat. Rekam jejak masa lalu Pasaman membuktikan, lewat lembah dan bukit hal yang renggang menjadi rapat dan erat.
Untuk menapaki terjal, curam lembah dan bukit Pasaman serta menyusuri aliran sungai dan masa silam Pasaman lewat puisi, kami pengurus  Forum Pegiat Literasi Pasaman bermaksud menerbitkan buku antologi puisi "Pasaman  Dalam Puisi"
Untuk itu kami mengundang seluruh sahabat penyair di serantau nusantara untuk mengirimkan puisi  dengan ketentuan sebagai berikut:

1. Penyair tinggal di Indonesia dan mancanegara (Asia Tenggara)

2. Masing-masing penyair mengirimkan minimal dua (2) puisi

3. Tema "Pasaman" dengan objek : Sungai, lembah dan  Sejarah

4.Karya dan biodata singkat dikirim dalam satu file dengan subyek Pasaman /nama penyair/asal daerah atau negara (contoh: Pasaman /Ubai/medan, Indonesia)

5.Karya dikirim ke email arbitanjung06@gmail.com  paling lambat 15 November 2019

6.Kurator antologi puisi 'Pasaman Dalam Puisi' yakni: Tarmizi Rumahitam dan Kurnia Hadinata

7.Sebagai tanda terimakasih, panitia akan memberi satu buku antologi (bukan honor) kepada penyair yang lolos kurasi

8.Buku akan diluncurkan pada acara " Baca Puisi di Perbatasan"  28-29 Desember 2019 di Muara Tais (Perbatasan Riau-Sumbar-Sumut) Mapat Tunggul-Pasaman

Salam Puisi
Arbi Tanjung
(Ketua Forum Pegiat Literasi Pasaman)

Senin, 24 Juni 2019

HUT DESA LANGKITIN Ke - 16

HUT DESA LANGKITIN KE – 16.

(23/6/2019)
Merayakan hari jadi Desa Langkitin kecamatan Rambah Samo kabupaten Rokan Hulu menggelar beberapa lomba antara lain lomba Azan, Lomba membaca ayat pendek, lomba tartil, dan lomba rebana serta gerak jalan santai yang diikuti seluruh lapisan masyarakat Desa Langkitin.  Kegiatan tersebut disambut antusias oleh seluruh masyarakat Desa Langkitin.

Menurut bapak kepala Desa Langkitin Refli Nasution, kegiatan lomba ini tujuanya untuk memgajak seluruh lapisan masyarakat Desa Langkitin untuk berpartisipasi demi meningkatkan kualitas keagamaan dikalangan masyarakat Desa Langkitin.

“Kita selama ini tidak pernah mengadakan acara peringatan hari ulang tahun Desa Langkitin.  Jadi selama ini masyarakat kita dalam membangun desa, partisipasinya sangat jauh, sangat kurang sekali, apalagi dibidang agama.  Mumpung ini tahun baik, ulang tahun Desa Langkitin kami berinisiatif membuat momen-momen kegiatan yang bergerak dibidang keagamaan agar masyarakat Desa Langkitin ikut beepartisipasi. Inilah tujuan kami”

Kegiatan gerak jalan santai yang dilaksanakan pada hari minggu 23/6/2019 ini juga langsung dipimpin oleh kepala Desa Langkitin dan hampir seluruh lapisan kalangan masyarakat turut andil dalam kegiatan ini, baik anak-anak, remaja hingga orang tua, semua berduyun-duyun membentuk barisan dengan tertib.

“Seluruh Masyarakat Desa Langkitin hadir untuk mengikuti kegiatan ini, bahkan masyarakat desa tetangga juga ikut menyaksikan kegiatan HUT Desa Langkitin. Kalau untuk peserta gerak jalan santai lebih kurang 1000 orang” tuturnya



(Bapak Kepala Desa Langkitin Refli Nasution memimpin rombongan gerak jalan santai pada kegiatan HUT Desa Langkitin yang ke-16)

Salah seorang masyarakat Desa Langkitin, Arnita Adam (39 tahun) berharap agar kegiatan ini terus berlanjut dimasa yang akan datang
“Kegiatan positif yang membuat masyarakat kembali belajar dan belajar dibidang keagamaan sangat bermanfaat sekali, hendaknya kegiatan seperti ini jangan berhenti sampai kegiatan ini saja, tetapi berlanjut dan diterapkan pada kehidupan sehari-hari” imbuhnya




(Salah satu group peserta Rebana pada kegiatan lomba Rebana dalam memperingati HUT Desa Langkitin Yang ke – 16 )

Rabu, 28 Maret 2018


SIARA BERSAMA RADIO HARMONI ROKAN HULU 91,8 FM
22 Maret 2018 =  Hari Film Nasional 
PUKUL : 20:00 - 22:00 WIB
Nara Sumber Arnita Adam dan Bapak Asep Odang Kurnia
TEMA : HARI FILM NASIONAL


Budaya Literasi Film dan Pendidikan
Lihatlah serbuan budaya Korea di ibu pertiwi. Gelombang korea menimbulkan para remaja dan anak-anak mengalami demam Korea. Apa pun akan dilakukan para K-Popers demi melihat tayangan Korea. Tambah media televisi mengamini. Masih ingat goyangan lagu Gangnam style. Ya lagu K-Pop itu menggoyang dunia termasuk Indonesia pada tahun 2012. Tarian “menunggang kuda” menjadi khas.

Ditirukan oleh anak-anak, remaja, dan bahkan orang dewasa. Lebih seru lagi ada boy band dan girl band serta drama Korea yang telah mewabah budaya di Indonesia. Apa pun akan dilakukan para K-Popers untuk menikmati sajian Korea. Bahkan seri film, tokoh film, lagu, hingga kehidupan pribadi artis Korea menjadi konsumsi pembicaraan di kalangan remaja. Boleh dikata, agresi budaya Korea merauk keberhasilan di negara tercinta. Ibarat sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui, hembusan budaya Korea juga mendongkrak produk-produk mereka pula.

Agresi budaya asing melalui berbagai pernak perniknya merupakan ancaman bagi jati diri bangsa. Lima, sepuluh, bahkan ganti generasi kekhawatiran kehilangan jati diri sebuah keniscayaan jika tidak ada upaya pembinaan dari pemangku kekuasaan. Film merupakan pertunjukan audio visual yang menghadirkan lengkap cerita beserta aspek sosial budayanya. Adat, tradisi, pakaian, tingkah laku, dan gaya hidup ada di situ.

Perkuat budaya nasional
Era teknologi informasi, era digital, ‘peperangan budaya’ sedang terjadi. Sekat-sekat batas teritorial dan budaya seakan sudah tipis. Kecanggihan teknologi seperti internet telah membuat produk budaya dari suatu negara mudah diakses. Ya kita hidup dalam budaya multikulturalisme. Hal inilah yang perlu kita antipasi jangan sampai “peperangan budaya’ melunturkan budaya bangsa. Oleh karena itu perlu strategi untuk memperkuat budaya nasional dengan membangun literasi film nasional berlatar budaya daerah di Indonesia.

Sebenarnya kita patut bangga, pernah ada film tanah air yang menjadi tuan rumah di negara sendiri seperti film garapan Riri Reza yang dirilis tahun 2008. Ya judul film Laskar Pelangi, adaptasi dari novel Laskar Pelangi. Berlatar di sebuah desa Gantung, kabupaten Belitung Timur dengan mengungkapkan permasalahan pendidikan, film itu mampu menghipnotis ratusan orang untuk berbondong-bondong menonton di bioksop.

Film itu juga mampu membukakan mata pendidik, siswa, dan masyarakat tentang keterbatasan dalam pendidikan tidak menghalangi capaian prestasi. Terbukti anak-anak Laskar Pelangi mampu memenangkan lomba cerdas cermat mengalahkan sekolah kaya. Selain itu, film itu menambah wawasan kita tentang geografis Kabupaten Belitung, mata pencaharian masyarakat yang sebagian besar buruh di pertambangan, dan sumber daya alam tinggi tetapi ekonomi lemah.

Maju ke tahun 2010, ada film yang menceritakan latar budaya Jawa di Kauman, Yogyakarta. Kita bisa melihat di sana tradisi kejawen yang kental di masyarakat, pakaian beskap, bahasa Jawa, sekolah priyayikweekschool, keagungan keraton, Masjid besar Kauman, dan sebagainya. Ya film itu berjudul Sang pencerah. Film yang disutradarai Hanung Bramantyo itu menceritakan kisah awal berdirinya Organisasi Muhammadiyah. Film itu termasuk film biopik seperti film Sukarno, Jenderal Sudirman, Sang Kiai, Gie, dan sebagainya.

Memang kalau dianalisis, ada korelasi antara budaya dengan ekonomi. Seperti pemerintah Korea yang mendukung penuh kemajuan budaya di negaranya sehingga memberikan pengaruh pada keterjualan produk-produk mereka di luar negeri. Dari fashion, gaya rambut, pernak-pernik yang lain sangat laris terjual. Dengan demikian memperkuat budaya nasional merupakan keharusan.

Salah satunya seperti yang digagas Pak Menteri dengan memarakkan film Indonesia berlatar budaya Indonesia. Keunikan kultur setiap daerah di Indonesia perlu digali dan disajikan dalam cerita film yang menarik. Setiap pemerintah daerah meluangkan waktu untuk menggarap film berlatar daerah masing-masing.

Mengakrabkan film dengan sekolah
Film bisa menjadi media pembelajaran di sekolah. Ada  salah satu kompetensi dasar pembelajaran bahasa Indonesia yakni meresensi film. Para siswa diberi kesempatan untuk menikmati setiap alur film kemudian menghasilkan ulasan-ulasan kelebihan dan kekurangan film. Sebagian besar anak-anak tertarik mengikuti pembelajaran tersebut.

Namun, hal yang paling serius dilakukan pengajar adalah menyediakan fasilitas media film yang cocok untuk kalangan pendidikan. Sudah menjadi cerita umum jika produksi film mengikuti arus pangsa pasar. Memang tujuan dari semua itu agar film laku keras di masyarakat. Produksi film tidak terlepas dari unsur seks dan kekerasan. Bahkan film yang meneskplorasi seks dan kekerasan laku di pasaran.

Dengan adanya gagasan dari Pak Menteri, maka perlu kiranya ada tindak lanjut dari Pemerintah Daerah, para seniman dan budayawan untuk berikhtiar memproduksi film yang berlatar budaya daerah nusantara. Kangen juga mengharapkan melihat permainan tradisional seperti dakon, jamuran, gobag sodor dieksplorasi dalam film.

Kangen juga membayangkan tarian-tarian daerah seperti jaipong, lengger, tari kecak menjadi latar dalam film. Kangen juga menyaksikan geografis daerah dengan segala pernak-pernik kultural serta bahasa menghiasi layar kaca bioskop. Semoga langkah-langkah ini bisa mereduksi agresi budaya asing di negara kita tercinta dan menjaga tetap teguhnya jati diri bangsa.