Minggu, 20 September 2026


 

GURU YANG MENULIS, BERKARYA, DAN MENGGERAKKAN LITERASI

Narasi Kehidupan Arnita Adam, S.Pd., M.AP.


AWAL PERJALANAN: CAHAYA DARI RUANG KELAS

Semuanya bermula dari sebuah ruang kelas yang sederhana, tempat cahaya pagi menyapa meja-meja kayu yang telah berdiri bertahun-tahun. Di sinilah saya menyadari: tugas seorang guru bukan sekadar memindahkan isi buku ke kepala siswa, melainkan membuat pengetahuan itu hidup, menjadikannya karya, gerakan, dan manfaat yang menjangkau jauh melampaui pintu gerbang sekolah. Mengajar bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal dari perjalanan untuk terus belajar, berkarya, dan berbagi seumur hidup.

Saya Arnita Adam, lahir di Langkitin, Kabupaten Rokan Hulu, Riau, desa yang menyimpan kesederhanaan tempat di mana mimpi-mimpi pertama saya tumbuh. Kini saya mengabdi sebagai pendidik di SMP Negeri 7 Rambah Samo, dan sebelumnya telah mendedikasikan diri sepuluh tahun di MDTA Nurul Barokah. Sepuluh tahun itu mengajarkan saya bahwa mengajar bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan pengabdian.

Perjalanan seorang guru tidak boleh berhenti di ambang pintu kelas. Apa yang dipelajari harus dibawa keluar,  kepada masyarakat, lingkungan, dan kehidupan nyata. Itulah sebabnya, selain mengajar, saya menulis, berkarya, melakukan jurnalistik, melangkah ke berbagai negeri, dan menggerakkan literasi ke mana saja. Bersama Nur Atika, kami mendirikan Lenggok Media Production, wadah yang lahir dari keyakinan bahwa setiap orang memiliki cerita yang layak didengar. Lenggok bukan sekadar nama, melainkan ruang tempat gagasan tumbuh, kreativitas berkembang, dan suara setiap orang dihargai.


RIWAYAT PENDIDIKAN: JEJAK YANG TAK PERNAH BERHENTI

Setiap langkah saya hari ini berakar pada perjalanan panjang menuntut ilmu. Pendidikan dasar saya tempuh di SD Negeri 024 Langkitin, tahun 1987–1993.  di sinilah saya pertama kali menyadari bahwa buku adalah jendela ke dunia yang luas. Kemudian saya melanjutkan ke SMP Negeri 1 Rambah, tahun 1994–1997, masa di mana saya mulai menemukan suara diri sendiri dan berani bermimpi.

Tahun 1997–2000 saya menempuh pendidikan di SMK Negeri 1 Pekanbaru, meninggalkan rumah untuk pertama kalinya, belajar berdiri sendiri dan memahami kemandirian. Pendidikan sarjana saya selesaikan di Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan, tahun 2000–2005, jauh dari keluarga, saya belajar tentang kesabaran, ketekunan, dan bahwa ilmu tidak mengenal batas wilayah. Belum selesai di situ, saya kembali melanjutkan studi pascasarjana di Universitas Riau, tahun 2019–2023. Banyak yang bertanya mengapa kembali belajar di tengah kesibukan, jawabannya sederhana: seorang guru tidak boleh berhenti menjadi pembelajar. Jika saya berhenti tumbuh, bagaimana saya bisa mengajak orang lain melangkah? Pendidikan bukan sesuatu yang selesai saat ijazah diterima; ia adalah teman seumur hidup.


PELATIHAN DAN PENGEMBANGAN: TAK PERNAH BERHENTI BELAJAR

Saya percaya apa yang kita miliki hari ini mungkin belum cukup menjawab tantangan esok, sehingga saya terus memperluas wawasan dari tahun ke tahun. Tahun 2026 menjadi tahun yang kaya karya: saya menulis Pantun Serumpun Hati Berpaut, naskah teater Legenda Desa Langkitin, serta buku Greed Files, Akar yang Menolak Tumbang, Berpuasa dan Umroh di Masa Perang Timur Tengah, novel The Wong Phan is Back, dan Travel to Morocco with Tragedy. Saya juga menjadi narasumber Sharing Literasi FLP dan juri lomba Menulis Cerpen FTBI.

Tahun 2025 saya menjadi pemateri Bimtek Revitalisasi Bahasa Melayu, pelatih Festival Tunas Bahasa Ibu, menyusun buku Pengabdian Guru Tanpa Batas, Pendidikan yang Berimbas, juri HUT RI ke-80, peserta Lokakarya Cerpen Anak, sekaligus penulis Travel Kamboja-Vietnam. Tahun 2024 saya menjadi juri FLS2N, Penggerak Literasi Sekolah, narasumber Penguatan Literasi Masyarakat, serta menerima penghargaan Jurnalis Terbaik Lenggokmedia.com. Tahun 2023 saya ikut pelatihan Peningkatan Indeks Literasi Masyarakat; tahun 2021 lahir karya anak Cinta Raja Rokan; tahun 2020 saya menerbitkan Travel Solo ke Ghana Afrika dan Pantun Nasehat.

Kembali ke masa sebelumnya: tahun 2018,  menerbitkan Backpacker ke Vietnam Penuh Hikmah dengan Jilbab, dan menjadi relawan Ubud Writers and Readers Festival. Tahun 2017 saya menjadi panitia Lomba Baca Puisi dan peserta Tour Leader Camp. Tahun 2016 mengikuti Workshop Manajemen Perpustakaan. Sebelumnya, dari 2015 mundur ke tahun 2009, saya terus melatih diri , pelatihan bahasa Inggris, seminar literasi media, Sertifikat Pendidik Profesional tahun 2012, beragam pelatihan pembelajaran aktif dan penulisan karya tahun 2011, hingga meraih Juara Lomba Menulis Cerpen tahun 2010. Setiap kegiatan, baik sebagai peserta, pemateri, maupun juri, mengajarkan: belajar tidak mengenal pangkat, usia, atau status. Selama hati terbuka, selalu ada hal baru yang dapat dipelajari dan dibagikan.


Saya Arnita Adam. Saya tidak hanya ingin menjadi guru yang mengajar di dalam kelas. Saya ingin menjadi guru yang meninggalkan jejak, di hati mereka yang saya temui, di halaman karya yang lahir, di langkah mereka yang kini berjalan bersama. Dari ruang kelas sederhana, mimpi dinyalakan. Dari buku yang dibaca, dunia dibuka. Dari ketulusan berkarya, jejak ditinggalkan,  yang tak akan hilang, selama ada orang yang membacanya dan melanjutkannya. Dan itulah yang akan saya lakukan: terus melangkah, menulis, mengajar, berbagi, selama napas masih dikandung badan.

PRAKTIK BAIK: LITERASI YANG MENYENTUH SETIAP USIA

Di luar jam pelajaran, saya meyakini bahwa cahaya pendidikan harus menjangkau semua kalangan, tanpa terkecuali. Keyakinan ini mewujud dalam empat gerakan yang saya jalani sepenuh hati.

 

Pertama, BELESENG [Bersama Lenggok Senang] Membaca. Kegiatan ini lahir dari keinginan agar literasi tidak terasa berat atau jauh dari kehidupan sehari-hari. Setiap Sabtu pagi, warga berkumpul di lingkungan Pemda Kabupaten Rokan Hulu  berjalan, berolahraga bersama, menjaga kesehatan tubuh sekaligus kebersamaan, lalu duduk melingkar untuk membaca, berdiskusi, dan berbagi pandangan tentang buku yang telah dipilih bersama. Di sini tidak ada pendengar pasif. Setiap orang berhak berbicara, setiap pendapat dihargai. Literasi menjadi kebahagiaan yang dirayakan bersama, ada gerak, ada bacaan, ada tawa, dan ada persaudaraan yang tumbuh di antara halaman-halaman buku.

 

Kedua, menjadi Relawan Tutor di PKBM Lenggok berbasis Sekolah Alam. Saya ingin anak-anak tidak hanya belajar dari papan tulis, tetapi langsung dari alam, dari lingkungan, dari pengalaman nyata. Di sini kami mengajak mereka keluar ruangan, melihat tumbuhan, menyentuh air, merasakan kehidupan secara langsung. Mereka belajar mengamati, bertanya, menulis apa yang mereka lihat, dan bercerita tentang apa yang mereka temui. Pendidikan menjadi sesuatu yang dapat disentuh dan dirasakan, bukan sekadar dihafal. Saya ingin mereka tumbuh dengan rasa ingin tahu yang tak pernah padam, memahami bahwa dunia ini adalah buku yang sangat luas.

 

Ketiga, terlibat sebagai Relawan di Sekolah Lansia Melati. Banyak yang mengira masa belajar selesai ketika usia bertambah, saya ingin membuktikan sebaliknya. Di sini, para lansia kembali duduk bersama, membaca, menulis, bercerita tentang masa lalu yang penuh perjuangan, dan menyusun pesan berharga untuk anak cucu mereka. Mereka yang dulu mungkin tak sempat menyalurkan minat membaca kini memiliki ruang untuk berkarya. Mendampingi mereka mengajarkan saya satu kebenaran mendalam: belajar tidak mengenal usia. Tidak ada kata terlambat untuk membuka buku, memegang pena, atau menyuarakan isi hati. Ketika seorang lansia kembali menulis, ia tidak hanya meninggalkan catatan bagi dirinya sendiri, melainkan warisan bagi kita semua.

 

Keempat, melakukan Coaching di FTBI Rokan Hulu. Melalui Lenggok bekerjasama dengan pemerintah Kabupaten Rokan Hulu,  saya mendampingi siswa-siswi yang baru mulai menemukan jalannya, membimbing cara menyusun gagasan, mengembangkan tulisan, dan memantaskan karya agar layak dibaca banyak orang, dan dideklamasikan.  Saya berbagi pengalaman, memberi masukan yang membangun, dan menguatkan semangat mereka agar tidak mudah menyerah. Bagi saya, membimbing penulis muda sama artinya dengan menanam benih, kita tidak memetik buahnya sendiri, tetapi kita tahu bahwa suatu hari ia akan tumbuh menjadi pohon yang meneduhkan banyak orang. Melihat mereka berani mempublikasikan karya pertama kali adalah salah satu kebahagiaan terbesar yang saya rasakan.

Keempat praktik ini mengajarkan hal yang sama: literasi bukan milik kelompok tertentu. Ia milik anak-anak, milik remaja, milik orang tua, milik mereka yang telah berusia lanjut. Tugas kita hanyalah membukakan pintu, menyediakan ruang, dan menemani mereka melangkah masuk.


PELATIHAN DAN PENGEMBANGAN: TAK PERNAH BERHENTI BELAJAR

 

Saya percaya apa yang kita miliki hari ini mungkin belum cukup menjawab tantangan esok, sehingga saya terus memperluas wawasan dari tahun ke tahun. Tahun 2026 menjadi tahun yang kaya karya: saya menulis Pantun Serumpun Hati Berpaut, naskah teater Legenda Desa Langkitin, serta buku Greed Files, Akar yang Menolak Tumbang, Berpuasa dan Umroh di Masa Perang Timur Tengah, novel The Wong Phan is Back, dan Travel to Morocco with Tragedy. Saya juga menjadi narasumber Sharing Literasi FLP dan juri lomba Menulis Cerpen FTBI.

 

Tahun 2025 saya menjadi pemateri Bimtek Revitalisasi Bahasa Melayu, pelatih Festival Tunas Bahasa Ibu, menyusun buku Pengabdian Guru Tanpa Batas, Pendidikan yang Berimbas, juri HUT RI ke-80, peserta Lokakarya Cerpen Anak. Tahun 2024 saya menjadi juri FLS2N Tingkat SMA pada bidang Lomba Jurnalistik deng sub penulisan Feature, Penggerak Literasi Sekolah, narasumber Penguatan Literasi Masyarakat, serta menerima penghargaan Jurnalis Terbaik Lenggokmedia.com.

 

Tahun 2023 saya ikut pelatihan Peningkatan Indeks Literasi Masyarakat; tahun 2021 lahir karya anak Cinta Raja Rokan; dan naskah tersebut diterbikan Balai Bhasa Provinsi Riau. tahun 2020 saya menerbitkan Travel Solo ke Ghana Afrika dan Pantun Nasehat.

 

Kembali ke masa sebelumnya, menerbitkan Backpacker ke Vietnam Penuh Hikmah dengan Jilbab, dan menjadi relawan Ubud Writers and Readers Festival. Tahun 2017 saya menjadi panitia Lomba Baca Puisi dan peserta Tour Leader Camp. Tahun 2016 mengikuti Workshop Manajemen Perpustakaan. Sebelumnya, dari 2015 mundur ke tahun 2009, saya terus melatih diri,  pelatihan bahasa Inggris, seminar literasi media, ,beragam pelatihan pembelajaran aktif dan penulisan karya tahun 2011, hingga meraih Juara Lomba Menulis Cerpen tahun 2010. Setiap kegiatan,  baik sebagai peserta, pemateri, maupun juri,  mengajarkan: belajar tidak mengenal pangkat, usia, atau status. Selama hati terbuka, selalu ada hal baru yang dapat dipelajari dan dibagikan.


PENGHARGAAN: SEMANGAT YANG TAK PADAM

 

Ada dua momen yang menguatkan langkah saya. Tahun 2018, saya menerima Setya Lencana 10 Tahun dari Presiden Republik Indonesia,  penghargaan atas pengabdian sebagai guru, yang saya rasakan bukan milik saya sendirian, melainkan milik semua pihak yang mendukung perjalanan ini.

 

Tahun 2019 datang Traveloka Award, yang menguatkan keyakinan bahwa perjalanan dan tulisan dapat menginspirasi orang lain untuk melangkah dan berbagi. Namun penghargaan yang sesungguhnya tetap sederhana: melihat anak-anak berani membaca, orang-orang mulai menulis, dan lingkungan tumbuh lebih hidup karena kehadiran buku. Itulah kemenangan yang nyata.


KARYA, PERAN, DAN ORGANISASI: MENGGERAKKAN BERSAMA

Peran saya terangkum dalam kesatuan tujuan: penulis buku dan perjalanan, jurnalis, penggerak literasi, tutor, pemateri, pelatih, juri, hingga penyiar radio, semua mengarah pada satu hal: menyebarkan cahaya tulisan ke mana saja. Gerakan ini tidak berjalan sendiri.

 

Di Lenggok Media Production, saya dipercaya menjabat Ketua periode 2026–2030, memastikan wadah ini terus memberi ruang berkarya bagi siapa saja. Sebelumnya di Forum Lingkar Pena Cabang Rokan Hulu, saya menjabat Koordinator Divisi Kaderisasi periode 2022–2024 membimbing penulis muda, lalu melanjutkan sebagai Koordinator Divisi Karya sejak 2024, memastikan karya yang lahir bermutu dan bermanfaat luas.


PENUTUP: JEJAK YANG TERUS HIDUP

 

Melalui tulisan, saya menemukan kekuatan menyimpan pengalaman dan meninggalkan jejak, lebih dari tiga puluh judul telah lahir, dan setiap judul adalah bagian dari diri yang saya bagikan. Bersama Lenggok, saya bermimpi panjang hingga tahun 2040: beberapa sudah terwujud, sebagian sedang diperjuangkan, sebagian lagi menanti waktunya, semuanya dilangkah satu per satu.

 

Saya Arnita Adam. Saya tidak hanya ingin menjadi guru yang mengajar di dalam kelas. Saya ingin menjadi guru yang meninggalkan jejak,  di hati anak-anak yang saya bimbing, di semangat warga yang berkumpul membaca, di senyum para lansia yang kembali memegang pena, di tulisan para penulis muda yang kini berani tampil. Dari ruang kelas sederhana, mimpi dinyalakan. Dari langkah kecil bersama, gerakan tumbuh. Dari ketulusan berkarya, jejak ditinggalkan yang tak akan hilang, selama ada orang yang 



melanjutkannya. Dan itulah yang akan saya lakukan: terus melangkah, menulis, mengajar, berbagi, selama napas masih dikandung badan.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar