SIARA BERSAMA RADIO HARMONI ROKAN HULU 91,8 FM
22 Maret 2018 = Hari Film Nasional
PUKUL : 20:00 - 22:00 WIB
Nara Sumber Arnita Adam dan Bapak Asep Odang Kurnia
TEMA : HARI FILM NASIONAL
Budaya Literasi Film dan Pendidikan
Lihatlah serbuan budaya Korea di ibu pertiwi.
Gelombang korea menimbulkan para remaja dan anak-anak mengalami demam Korea.
Apa pun akan dilakukan para K-Popers demi melihat tayangan Korea. Tambah media
televisi mengamini. Masih ingat goyangan lagu Gangnam style. Ya lagu K-Pop itu
menggoyang dunia termasuk Indonesia pada tahun 2012. Tarian “menunggang kuda”
menjadi khas.
Ditirukan oleh anak-anak, remaja, dan bahkan orang
dewasa. Lebih seru lagi ada boy band dan girl band serta drama Korea yang telah
mewabah budaya di Indonesia. Apa pun akan dilakukan para K-Popers untuk
menikmati sajian Korea. Bahkan seri film, tokoh film, lagu, hingga kehidupan
pribadi artis Korea menjadi konsumsi pembicaraan di kalangan remaja. Boleh
dikata, agresi budaya Korea merauk keberhasilan di negara tercinta. Ibarat
sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui, hembusan budaya Korea juga
mendongkrak produk-produk mereka pula.
Agresi budaya asing melalui berbagai pernak perniknya
merupakan ancaman bagi jati diri bangsa. Lima, sepuluh, bahkan ganti generasi
kekhawatiran kehilangan jati diri sebuah keniscayaan jika tidak ada upaya
pembinaan dari pemangku kekuasaan. Film merupakan pertunjukan audio visual yang
menghadirkan lengkap cerita beserta aspek sosial budayanya. Adat, tradisi,
pakaian, tingkah laku, dan gaya hidup ada di situ.
Perkuat budaya nasional
Era teknologi informasi, era digital, ‘peperangan
budaya’ sedang terjadi. Sekat-sekat batas teritorial dan budaya seakan sudah
tipis. Kecanggihan teknologi seperti internet telah membuat produk budaya dari
suatu negara mudah diakses. Ya kita hidup dalam budaya multikulturalisme. Hal
inilah yang perlu kita antipasi jangan sampai “peperangan budaya’ melunturkan
budaya bangsa. Oleh karena itu perlu strategi untuk memperkuat budaya nasional
dengan membangun literasi film nasional berlatar budaya daerah di Indonesia.
Sebenarnya kita patut bangga, pernah ada film tanah
air yang menjadi tuan rumah di negara sendiri seperti film garapan Riri Reza
yang dirilis tahun 2008. Ya judul film Laskar Pelangi, adaptasi dari novel
Laskar Pelangi. Berlatar di sebuah desa Gantung, kabupaten Belitung Timur
dengan mengungkapkan permasalahan pendidikan, film itu mampu menghipnotis
ratusan orang untuk berbondong-bondong menonton di bioksop.
Film itu juga mampu membukakan mata pendidik, siswa,
dan masyarakat tentang keterbatasan dalam pendidikan tidak menghalangi capaian
prestasi. Terbukti anak-anak Laskar Pelangi mampu memenangkan lomba cerdas
cermat mengalahkan sekolah kaya. Selain itu, film itu menambah wawasan kita
tentang geografis Kabupaten Belitung, mata pencaharian masyarakat yang sebagian
besar buruh di pertambangan, dan sumber daya alam tinggi tetapi ekonomi lemah.
Maju ke tahun 2010, ada film yang menceritakan latar
budaya Jawa di Kauman, Yogyakarta. Kita bisa melihat di sana tradisi kejawen
yang kental di masyarakat, pakaian beskap, bahasa Jawa, sekolah
priyayikweekschool, keagungan keraton, Masjid besar Kauman, dan sebagainya. Ya
film itu berjudul Sang pencerah. Film yang disutradarai Hanung Bramantyo itu
menceritakan kisah awal berdirinya Organisasi Muhammadiyah. Film itu termasuk
film biopik seperti film Sukarno, Jenderal Sudirman, Sang Kiai, Gie, dan
sebagainya.
Memang kalau dianalisis, ada korelasi antara budaya
dengan ekonomi. Seperti pemerintah Korea yang mendukung penuh kemajuan budaya
di negaranya sehingga memberikan pengaruh pada keterjualan produk-produk mereka
di luar negeri. Dari fashion, gaya rambut, pernak-pernik yang lain sangat laris
terjual. Dengan demikian memperkuat budaya nasional merupakan keharusan.
Salah satunya seperti yang digagas Pak Menteri dengan
memarakkan film Indonesia berlatar budaya Indonesia. Keunikan kultur setiap
daerah di Indonesia perlu digali dan disajikan dalam cerita film yang menarik.
Setiap pemerintah daerah meluangkan waktu untuk menggarap film berlatar daerah
masing-masing.
Mengakrabkan film dengan sekolah
Film bisa menjadi media pembelajaran di sekolah.
Ada salah satu kompetensi dasar pembelajaran bahasa Indonesia yakni
meresensi film. Para siswa diberi kesempatan untuk menikmati setiap alur film
kemudian menghasilkan ulasan-ulasan kelebihan dan kekurangan film. Sebagian
besar anak-anak tertarik mengikuti pembelajaran tersebut.
Namun, hal yang paling serius dilakukan pengajar
adalah menyediakan fasilitas media film yang cocok untuk kalangan pendidikan.
Sudah menjadi cerita umum jika produksi film mengikuti arus pangsa pasar.
Memang tujuan dari semua itu agar film laku keras di masyarakat. Produksi film
tidak terlepas dari unsur seks dan kekerasan. Bahkan film yang meneskplorasi
seks dan kekerasan laku di pasaran.
Dengan adanya gagasan dari Pak Menteri, maka perlu
kiranya ada tindak lanjut dari Pemerintah Daerah, para seniman dan budayawan
untuk berikhtiar memproduksi film yang berlatar budaya daerah nusantara. Kangen
juga mengharapkan melihat permainan tradisional seperti dakon, jamuran, gobag
sodor dieksplorasi dalam film.
Kangen juga membayangkan tarian-tarian daerah seperti
jaipong, lengger, tari kecak menjadi latar dalam film. Kangen juga menyaksikan
geografis daerah dengan segala pernak-pernik kultural serta bahasa menghiasi
layar kaca bioskop. Semoga langkah-langkah ini bisa mereduksi agresi budaya
asing di negara kita tercinta dan menjaga tetap teguhnya jati diri bangsa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar