Lelaki bijaksana itu suamiku
Judul : Dia Suamiku
Penulis : Reni Juniarti
Penerbit : CV biru Magenta media
Tahun terbit : Maret 2020
Jumlah halaman : 311
Dia suamiku sebuah novel Romance. Ketika Cinta telah ditakdirkan tak ada seorangpun yang dapat memisahkan, dengan solusi agama Islam semuanya berakhir dengan seimbang dan sejalan.
Kisah novel ini menceritakan seorang gadis belia bernama Rindu, dalam hidupnya hanya mencintai Allah dan mencintai orang tuanya namun ketika takdir dan jodoh dihadapkan kepadanya, Mampukah iya memilih jalan yang terbaik dan yang paling adil untuk 2 orang yang mempunyai hubungan darah, dan kedua lelaki tersebut sama- sama mencintainya.
Kisah cinta yang penuh konflik dimana antara dua lelaki, ayah dan anak sama-sama mencintai orang yang sama yakni Rindu. Permasalahan semakin menarik tatkala sang ayah berhasil memperistri Rindu. Yang di skenario oleh takdir.
Sang gadis Pasir Pengaraian itu menjunjung tinggi nilai-nilai agama Islam dimana setiap perempuan yang telah menikah dengan seseorang, maka anak-anaknya itu akan menjadi mahram bagi perempuan tersebut.
Dilema semakin membara antara ayah dan anak saling ingin memperebutkan cinta gadis tersebut sehingga mereka berdua sama-sama saling mencari perhatian agar bisa mendapatkan perhatiandan cinta tulus Rindu.
Di sisi lain Rindu sangat taat dengan kaidah Islam di mana beliau harus patuh tunduk dan kepada suami selama suami berada di jalan yang diridhoi Allah.
Setelah menikah dengan sang ayah Rindu merasa bersalah bila dicintai orang lain terlebih lagi dicintai oleh anak kandung dari suaminya. Hal itulah yang membuat permasalahan menjadi rumit dan sekaligus menjadi unik.
Begitu gigih Rindu meyakinkan kepada anak tirinya bahwa cinta antara mereka adalah cinta terlarang, Jadi mereka harus kembali kepada fitrah masing-masing, dimana seorang anak tiri telah menjadi muhrim bagi Ibunya yang telah dinikahi ayahnya akhirnya dengan kegigihan gadis itu sang anak mau mendengar nasehat sang ibu tiri terlihat dalam halaman 109 “Akhirnya Bang Bagas benar-benar berubah dia menepati janjinya hampir 3 bulan sejak kejadian itu kami hanya bertemu di meja makan waktu sarapan dan makan malam itu pun hanya sebentar dia pasti lebih dulu selesai dan meninggalkan meja makan duluan”
Nah itu kutipan dari sadarnya seorang anak tiri yang mencintai gadis yang dinikahi bapaknya.
Novel ini juga mengangkat bahasa lokal di mana beliau tinggal di daerah Melayu maka disini sering kita jumpai bahasa Melayu namun karena bahasa Melayu memang sangat berkorelasi dengan bahasa Indonesia jadi tidak masalah untuk dimengerti.
Tak lupa pula penulis mengangkat kebudayaan- kebudayaan lokal misalkan saja saat beliau terjebak di dalam sebuah supermarket di mana sedang terjadi perkelahian dan gadis belia itu turun tangan kemudian memberitahu bahwa ada kebudayaan lokal yang masih hidup di daerahnya seperti tertulis di halaman 176. Aku sudah belajar silat sejak kelas 1 SD silat dalam bahasa melayu Rokan Hulu disebut silek. Hampir semua jurus-jurus silat aku kuasai, mulai dari silek Melayu atau silek tigo bulan, silat ini sering juga disebut silek kampuong, silek tondan, silek sendeng, silek gajah bojuang, silek thariqat yang didirikan di Tanah Putih.
Kisah ini semakin menarik dengan hadirnya seorang tokoh antagonis Kania yang mempunyai karakter bermuka dua dan pandai bersilat lidah. Ditulis dalam alur maju mundur membuat novel ini semakin asyik untuk dibaca berulang-ulang.
Penulis sangat mengagung-agungkan sebuah kehidupan yang harmoni serta berlandaskan syariat Islam akhirnya dengan solusi ajaran Islam semua bisa menerima kenyataan. Baik Bagas sebagai anak tiri yang mencintai sang gadis maupun sang suami sebagai ayah yang mencintai sang Rindu sebagai istri. Meskipun ada ada satu dua kata yang typo sama sekali tidak mengurangi nikmatnya membaca novel ini. Saya sarankan novel ini tidak untuk dibaca anak berusia di bawah umur 17 tahun.
Review oleh Arnita Adam pada tanggal 10 Oktober 2020
Wow. mantap
BalasHapus