Rabu, 28 Maret 2018


SIARA BERSAMA RADIO HARMONI ROKAN HULU 91,8 FM
22 Maret 2018 =  Hari Film Nasional 
PUKUL : 20:00 - 22:00 WIB
Nara Sumber Arnita Adam dan Bapak Asep Odang Kurnia
TEMA : HARI FILM NASIONAL


Budaya Literasi Film dan Pendidikan
Lihatlah serbuan budaya Korea di ibu pertiwi. Gelombang korea menimbulkan para remaja dan anak-anak mengalami demam Korea. Apa pun akan dilakukan para K-Popers demi melihat tayangan Korea. Tambah media televisi mengamini. Masih ingat goyangan lagu Gangnam style. Ya lagu K-Pop itu menggoyang dunia termasuk Indonesia pada tahun 2012. Tarian “menunggang kuda” menjadi khas.

Ditirukan oleh anak-anak, remaja, dan bahkan orang dewasa. Lebih seru lagi ada boy band dan girl band serta drama Korea yang telah mewabah budaya di Indonesia. Apa pun akan dilakukan para K-Popers untuk menikmati sajian Korea. Bahkan seri film, tokoh film, lagu, hingga kehidupan pribadi artis Korea menjadi konsumsi pembicaraan di kalangan remaja. Boleh dikata, agresi budaya Korea merauk keberhasilan di negara tercinta. Ibarat sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui, hembusan budaya Korea juga mendongkrak produk-produk mereka pula.

Agresi budaya asing melalui berbagai pernak perniknya merupakan ancaman bagi jati diri bangsa. Lima, sepuluh, bahkan ganti generasi kekhawatiran kehilangan jati diri sebuah keniscayaan jika tidak ada upaya pembinaan dari pemangku kekuasaan. Film merupakan pertunjukan audio visual yang menghadirkan lengkap cerita beserta aspek sosial budayanya. Adat, tradisi, pakaian, tingkah laku, dan gaya hidup ada di situ.

Perkuat budaya nasional
Era teknologi informasi, era digital, ‘peperangan budaya’ sedang terjadi. Sekat-sekat batas teritorial dan budaya seakan sudah tipis. Kecanggihan teknologi seperti internet telah membuat produk budaya dari suatu negara mudah diakses. Ya kita hidup dalam budaya multikulturalisme. Hal inilah yang perlu kita antipasi jangan sampai “peperangan budaya’ melunturkan budaya bangsa. Oleh karena itu perlu strategi untuk memperkuat budaya nasional dengan membangun literasi film nasional berlatar budaya daerah di Indonesia.

Sebenarnya kita patut bangga, pernah ada film tanah air yang menjadi tuan rumah di negara sendiri seperti film garapan Riri Reza yang dirilis tahun 2008. Ya judul film Laskar Pelangi, adaptasi dari novel Laskar Pelangi. Berlatar di sebuah desa Gantung, kabupaten Belitung Timur dengan mengungkapkan permasalahan pendidikan, film itu mampu menghipnotis ratusan orang untuk berbondong-bondong menonton di bioksop.

Film itu juga mampu membukakan mata pendidik, siswa, dan masyarakat tentang keterbatasan dalam pendidikan tidak menghalangi capaian prestasi. Terbukti anak-anak Laskar Pelangi mampu memenangkan lomba cerdas cermat mengalahkan sekolah kaya. Selain itu, film itu menambah wawasan kita tentang geografis Kabupaten Belitung, mata pencaharian masyarakat yang sebagian besar buruh di pertambangan, dan sumber daya alam tinggi tetapi ekonomi lemah.

Maju ke tahun 2010, ada film yang menceritakan latar budaya Jawa di Kauman, Yogyakarta. Kita bisa melihat di sana tradisi kejawen yang kental di masyarakat, pakaian beskap, bahasa Jawa, sekolah priyayikweekschool, keagungan keraton, Masjid besar Kauman, dan sebagainya. Ya film itu berjudul Sang pencerah. Film yang disutradarai Hanung Bramantyo itu menceritakan kisah awal berdirinya Organisasi Muhammadiyah. Film itu termasuk film biopik seperti film Sukarno, Jenderal Sudirman, Sang Kiai, Gie, dan sebagainya.

Memang kalau dianalisis, ada korelasi antara budaya dengan ekonomi. Seperti pemerintah Korea yang mendukung penuh kemajuan budaya di negaranya sehingga memberikan pengaruh pada keterjualan produk-produk mereka di luar negeri. Dari fashion, gaya rambut, pernak-pernik yang lain sangat laris terjual. Dengan demikian memperkuat budaya nasional merupakan keharusan.

Salah satunya seperti yang digagas Pak Menteri dengan memarakkan film Indonesia berlatar budaya Indonesia. Keunikan kultur setiap daerah di Indonesia perlu digali dan disajikan dalam cerita film yang menarik. Setiap pemerintah daerah meluangkan waktu untuk menggarap film berlatar daerah masing-masing.

Mengakrabkan film dengan sekolah
Film bisa menjadi media pembelajaran di sekolah. Ada  salah satu kompetensi dasar pembelajaran bahasa Indonesia yakni meresensi film. Para siswa diberi kesempatan untuk menikmati setiap alur film kemudian menghasilkan ulasan-ulasan kelebihan dan kekurangan film. Sebagian besar anak-anak tertarik mengikuti pembelajaran tersebut.

Namun, hal yang paling serius dilakukan pengajar adalah menyediakan fasilitas media film yang cocok untuk kalangan pendidikan. Sudah menjadi cerita umum jika produksi film mengikuti arus pangsa pasar. Memang tujuan dari semua itu agar film laku keras di masyarakat. Produksi film tidak terlepas dari unsur seks dan kekerasan. Bahkan film yang meneskplorasi seks dan kekerasan laku di pasaran.

Dengan adanya gagasan dari Pak Menteri, maka perlu kiranya ada tindak lanjut dari Pemerintah Daerah, para seniman dan budayawan untuk berikhtiar memproduksi film yang berlatar budaya daerah nusantara. Kangen juga mengharapkan melihat permainan tradisional seperti dakon, jamuran, gobag sodor dieksplorasi dalam film.

Kangen juga membayangkan tarian-tarian daerah seperti jaipong, lengger, tari kecak menjadi latar dalam film. Kangen juga menyaksikan geografis daerah dengan segala pernak-pernik kultural serta bahasa menghiasi layar kaca bioskop. Semoga langkah-langkah ini bisa mereduksi agresi budaya asing di negara kita tercinta dan menjaga tetap teguhnya jati diri bangsa.

Selasa, 27 Maret 2018

Perjalanan Umrah

PERJALANAN UMRAH

Oleh : Arnita Adam

Thanks to:

Bisa berkunjung ke tanah suci untuk melaksanakan ibadah haji atau umroh tentu saja dambaan setiap muslim. Kabah adalah Baitulloh dan seorang hamba pasti rindu untuk datang kerumah Allah.  Bahkan yang telah berkali-kali pergi masih rindu utuk datang kembali ke Baitullah.

Oleh karena itu izinkan aku mengucapkan Puji syukur kehadirat Allah Swt yang telah memberikan kesempatan kepada untuk datang ke baitullah dan menulis buku ini.  Sholawat dan salam saya haturkan kepada proklamator islam Nabi Muhammad Saw yang menjadi penerang alam dengan iman, islam dan pengetahuan. Semoga syafa’at beliau menerangi di yaumil mahsyar Amin.

Setelah sukses menulis buku perjalanan ke tiga negara dengan judul “My Story Of My Journey to 3 Countries” saya semakin tertantang untuk menulis buku perjalanan berikutnya.  Teman-teman sudah mulai menrencanakan perjalanan berikutnya, ke Jepang, Korea, Abu Dhabi hingga Dubai. 
Tawaran teman-teman untuk travel ke berbagai belalahan bumi mulai berdatangan dari Asia hingga Eropa, membuat aku kebingungan yang mana harus kupilih satu.  Namun aku berpikir lain, dan berkata pada diriku sendiri  “Berapakah manfaat yang aku dapatkan dengan jalan-lajan ke luar negeri,  yang pasti akan menghabiskan uang cukup banyak.  Lebih baik aku pergi umrah, selain ibadah dan bisa minta doa di tempat yang mustajab.  Namun sudah sekalian juga keluar negeri” semakin aku pikirkan kata-kata itu, semakin kuat keinginanku untuk umrah.
Akhirnya saya pun googling dan mencari agent travel umrah yang nyaman dan terjangkau kantongku. Saya mulai mengecek segala fasilitas yang ditawarkan, mulai biaya umrah, hotel, juga bus yang disediakan. Dan akhirnya saya mendapat satu info paket umrah menarik dengan biaya terjangkau.  Saya menemui tour leadernya.  Lalu berbicang panjang lebar, lalu membulatkan tekat ke Baitullah bersama Albadriyah Wisata.

Terima kasih buat My beloved sister yang udah support apapun yang saya lakukan, juga buat keluarga besar, mama, abang, adik, terima kasih semuanya. Tak lupa segenap tim penerbit, editor, layouter, desain cover yang sudah membantu dalam penerbitan buku ini. Serta segenap karyawan PT. Al Badriya Wisata, khususnya Ica Daniyati. S, Kep yang sudah membantu dalam menyediakan data.  Terkhusus lagi,  saat saya mengguhubungi Pimpinan Cabang Rokan Hulu, Salahotma.  Beliau langsung tanggap dan membantu sepenuhnya saat saya menyampaikan ikut umrah dengan niat ibadah dan menulis perjalanannya berharap menjadi media dakwah.  Bahkan dengan kebaikannya beliau menempatkan saya selalu bersama beliau dalam perjalanan umrah ini.    Bukan hanya itu saja, selama proses pencarian data di tanah suci, beliau sangat membantu dengan mewawancarai berbahasa arab dan aku berbahasa Inggris kepada narasumber.

Tak lupa tentunya ucapan terima kasih penulis untuk muthoif   selama di Arab Saudi. Serta  segenap pembaca yang baik hati yang telah membaca buku ini, buku ini tidak ada artinya tanpa kalian. Dan penulis berdoa khusus bagi para pembaca dan pembeli buku ini  di mekah dan madinah semoga Allah memanggilnya ke Baitullah segera.  Amin.  Semoga bermanfaat. Salam hangat.

Penulis,