Minggu, 31 Januari 2016




                JELAJAH ALAM BERSAMA HIJAB TRAVELLER
Rencana liburan tahun baru ini sudah direncanakan sejak 2 minggu yang lalu.  Kali ini kita ingin mengunjungi air terjun.  Ait terjun ini masih natural bernama AIR TERJUN KATOBUNG terletak di kecamatan Batang Lubu Sutam, Papaso desa Salambue kabupaten Padang Lawas propinsi Sumatra Utara. Yakni perbatasan kabupaten Rokan hulu dan padang lawas.

Keberangkatan
Kami yang tinggal di kabupaten Rokan hulu provinsi Riau cukup dekat untuk mengunjunginya. Jadi sang ketua rombongan sudah wanti-wanti melalui sms untuk bekumpul dirumahnya jam 7 pagi pada tanggal 2 Januari 2016 bertepatan dengan hari Sabtu.  Sang ketua rombongan juga kami minta sebagai pemandu, Sebenarnya dia bukanlah pemandu profesional. Beliau adalah teman kami yang kami tetapkan menjadi pemandu  sebab beliau sudah pernah ke air terjun itu sebelumnya.
Pertama sekali yang kami lakukan adalah mengumpulkan dana.  Kami 9 orang mengupulkan uang Rp.  100.000 per orang.   Itulah yang diusulkan sang pemandu.  “Uang itu gunanya untuk membayar sewa boat dan membeli makanan diperjalanan” tegasnya.  Uang itu sidserahkan kepada bendahara yang kami angkat dadakan.
Dalam perjalanan.  Kami singgah di rumah makan untuk memesan nasi bungkus untuk makan siang.  Kemudian kami singgah lagi di super market untuk membeli makanan ringan dan minuman.
Dari kota pasir pengaraian kami tempuh perjalan via Bangun Purba sekitar 1 jam perjalanan menggunakan sepeda motor. Sekitar jam 10:30 WIB kami sudah tiba di desa Salambue.   Sang pemandu segera menghubungi pemilik boat. 
Sepeda motor kami parkir di rumah pemilik boat tersebut.  Untuk mengunjungi wisata air terjun ini, kami tidak dikenakan biaya, karcis atau pungutan apapun namanya.  Kami hanya membayar biaya boat Pulang Pergi sebesar Rp 300.000 yang dapat diisi 9 orang penumpang.




Kami juga membawa kain ganti. Sebab apabila hendak mengunjungi air terjun sudah pasti akan basah.   setiap air terjun pasti berada diatas bukit, tidak mungkin ada di dataran rendah.  Jadi bila ingin mengunjungi air terjun wajib mempersiapkan metal, fisik bahkan obat obatan..sebab di areal air terjun ini tidak akan dijumpai warung atau klinik.

Di aliran sungai menaiki boat
Aliran sungai papaso yang cukup kecil lebarnya sekitar 3 sampai 4 meter. Kala  itu aku mencelupkan tangan ku, terasa airnya sedikit hangat.   tidak sampai 50 meter air sungai itu bertemu dengan sungai batang lubuh yang cukup besar. Sebab musim penghujan.  Aku celupkan lagi tanganku airnya terasa dingin.
Selama perjalanan didalam boat dan suasana alam yang natural sepanjang tepi sungai menambah nilai lebih.  Melewati sungai dengan boat membuat tantangan tersendiri menuju air terjun ini.  Seperti berada di film-film dokumenter saja. 
Dalam perjalanan melewati air sungai Batang Lubuh ini.  Terasa so exited. Aku duduk dibelang di dekat pemilik boat sekaligus sebagai nakhoda boat.  Kesempatan itu aku gunakan untuk bertanya. “Pak  apa itu?” aku menunjuk sebuah benda terbuat dari besi.  “Dahulu kala sungai ini dijadikan tempat pencarian emas oleh masyarakat setempat.  itu adalah alat mencari emas.  pernah ada yang meninggal saat penggalian emas.  Beliau tertimbun tanah longsor” ucap pemilik boat saat saya tanya tentang sebuah besi ber ukuran besar di tepi sungai itu.
“Jadi sekarang apakah masyarakat masih mencari emas di sungai ini?” tanyaku
Sudah tidak lagi.  Sebab emasnya sudah mulai habis. Kalau pun ada.  Itu sagat dalam didasar sungai.
“bagaimana cara mencarinya pak” tanyaku lagi
“Pasir di dasar sugai akan disedot menggunakan pipa. Lalu pasir halus akan ditarik oleh pipa tersebut.  Kemudian di pasir itulah akan ditemukan emas”
“Oh begitu”
Tapi akibat suara mesin boat yang meraung keras membuat pembicaraan kami sedikit terganggu. 
Tidak sampai memakan waktu 40 menit. Kami telah sampai pada tujuan. Ternyata hari itu, bukan rombongan kami saja yang datang mengunjungi air terjun itu.  Terbukti disana sudah parkir beberapa boat milik rombongan lain.  Aku segera mengabadikan dengan menjepret gambar rombangan kami yang terakhir turun.  Yakni adik kandungku yang paling bungsu bernama Laung.



Takjub mata ini akan keindahan alam yang diciptakan sang pencipta. Ingin bersujud sedalam-dalamnya. Meyaksikan air yang jatuh dari ketinggian sekitar 3 meter lalu terpantul pada batu besar dibawahnya, lalu memancar kembali ke bawah. Masha Allah sungguh indah!
Masih menurut pemilik boat. “Saat musim kemarau air sugai ini akan menjadi dangkal dan airnya akan terlihat tenang, jernih sehingga batu-batu di dasar sungai terlihat dengan jelas karena dangkal. Jadi saat melewati sungai tadi menuju hulu. Kita akan turun 3 kali dari boat dan mendorongnya sebab ada 3 daerah sungai yang benar-benar dangkal”  jelas. 
“sungguh saya masih mau datang kesini lagi saat musim kemarau dan merasakan sensasi mendorong boat” balasku
“Kalau memang ingin datang lagi, datanglah lebih pagi.  Saya akan tunjukkan pertemuan 3 muara sungai kepada kalian.  Tapi arealnya masih jauh dari air terjun Katobung tersebut yang berada di hulu sungai” tantangnya
“Sungguh  aku mau, aku mau” ucapku senang.
Lalu kami satu persatu turun dari boat.  Sedangkan sang pemilik boat akan menunggu kami disitu. Bila mana kami hendak pulang.  Sebab tidak ada jaringan handpone disekitar areal itu.  Kami segera memberikan nasi bungkus yang kami beli diperjalanan kepadanya. Sebab ini sudah tengah hari apalagi di daerah berair akan cepat merasa lapar.

                Ternyata petualangan tidak hanya sampai disini.  “Masih ada air tenjun di bukit itu yang lebih tinggi lagi.” Kata sang pemandu.  “Tapi tidak usah khawatir tidak terlalu jauh dan rute perjalanan tidak terlalu curam katanya.
Mendengar penuturan sang pemandu membuat semangat kami semakin menggebu-gebu. “Tapi waktu sekarang ini adalah waktu sholat zuhur.  Bagaimana? kita sholat dimana?”  protesku.
“Kita kan sekarang musafir. Nanti shoalatnya kita jamak saja waktu azhar” ucap sang pemandu. Membuat hatiku sedikit lega.aku memang membawa mukena. Tapi sepertinya apayang disamapaikan pemandu masuk akal juga.
                Kami mulai menaiki tangga menuju bukit sekitar 11 anak tangga dari dalam sungai.  Aku yang mengajak adik perempuanku dan adik laki-lakiku yang bernama Laung merasa aman.  Sebab jika aku capek atau rute perjalanan sulit, akan ada pertolongan dari mereka.


Nasi bungkus dan air minum dan makanan ringan segera di tenteng oleh teman-teman yang laki-laki sedangkan kami yang perempuan tidak dibebani apa-apa. Itu ide sang pemandu. 
                Ternyata apa yang dikatakan pemandu, benar apa adanya, rute perjalanan cukup ringan bagi traveler penjelah alam.  Dan setiap ada tempat yang unik, yang natural, aku langsung pasang aksi bak foto model ingin dibidik camera.  Adikku yang laki-laki langsung tanggap mengambil potoku sebanyak-banyaknya.  Sungguh dia selalu menjadi hero bagiku, dimana saja.
                Sepanjang perjalanan menuju air terjun yang lebih tinggi lagi. sungguh tiada terasa lelah, karena asyik menikmati banyak panorama seperti batu-batu besar yang memikat yang membentang dihadapan.  Air jernih yang mengalir diatas bebatuan sangat memikat hati.  Terkadang juga dasar air itu berupa pasir halus berwarna kuning keemasan sungguh menakjubkan.
                Tidak sampai 30 menit kami berjalan kaki.  Sang pemandu lalu mengucapkan “Selamat Datang di air terjun Katobung dan selamat menikmati keindahan Alam yang hanya mampu diciptakan tuhan” ucapnya sambil tersenyum puas kearah kami.
                Mata kami lansung mendongak sekeliling. “Allahu Akbar” ucapku tatkala menyaksikan air deras berjatuhan dari ketinggian. Itulah air terjun yang menjadi tujuan kami.  Aku perkirakan ketinggian air terjun ini sekitar 10 meter hingga 15 meter.




Setelah kami puas menikmati panorama air terjun yang sudah hampir satu jam lebih dan sudah merasa puas tapi sebenarnya masih belum puas karena haripun sudah mulai petang, disitupun udara sangat sejuk, dan kami sudah merasa kedinginan. Kamipun mulai berkemas kembali untuk kembali pulang.  Karena udara sejuk dan air disekeliling kami menjadi lapar. Lalu kami makan nasi bungkus bersama-sama.
                Setelah puas mandi-mandi dan poto-poto kamipun segera pulang ke lembah bukit. Dimana nakhoda boat sudah menungu kami.
Satu minggu sebelum keberangkatan tat kala sang pemandu memperkenalan air terjun ini kepada saya.  Saya langsung search di google setelah mengetahui nama air terjun itu.  Dan ajaibnya tak satupun tulisan atau artikel yang muncul tentang air terjun itu.  Itu artinya.  Wisata alam air tenjun ini belum ada yang menulis. Lalu saya berjanji dalam hati “aku akan menjadi penulis pertama yang memperkenalkan air tenjun ini kepada dunia.” 
                Sebab itulah aku banyak bertanya kepada pemandu dan pemilik boat sepanjang perjalanan.  Aku mendadak jadi orang yang paling cerewet dan ingin banyak tahu tentang area sekitar.
Diperjalanan menuju pulang gerimispun datang. Bertambahlah dingin yang dirasakan.  Sesampai ditempat kami turun dari boat saat tiba.  Boat kami berada di seberang sungai.  Dikarenakan gerimis boat yang kami tumpangi tadi tidak mengenali kami.  Entah dia tidak melihat kami atau tidak mengenali kami lagi? Dikarenakan baru sekali berjumpa dengan kami.  Setelah begitu lama menunggu datang abang yang satu lagi.  Yang sudah hafal dengan wajah kami.
                Sebab ketika ke hulu ini kami memakai 2 boat.  Kami berbagi.  Diboat yang satu berisi 4 orang dan boat yang satu lagi 5 orang. Begitu lega perasaan kami ketika menaiki boat menuju pulang kembali ke hilir.  Namu saat kepulangan menuju hilir kami satu boat saja semuanya.
                Allahamdulillah setelah sampai di desa Salambue.  Kami dipersilahkan mengganti pakaian dirumah sang pemilik boat.  Setelah itu kami sholat ashar di jamak takahir dengan sholat zuhur.
Setelah pamit kepada pemilik boat.  Kami segera pulang.  Diperjalanan menuju pulang sang bendahara melaporkan masih ada sisa uang sekitar Rp. 220.000 lagi.  Kami mengusulkan untuk makan malam.
                Kami singgah di rumah makan eva yang terletak di kecamatan Rambah samo.  Setelah makan dengan kenyang kami embali kerumah masing masing.  Kami tiba di rumah sekitar pukul 20:00 WIB.




Artikel ini sudah di upload pada lomba travel mate...pada tanggal 29 Januari 2016..
this article  uploaded to travelmate compatition..on 29th, january 2016


Tidak ada komentar:

Posting Komentar