JELAJAH ALAM BERSAMA HIJAB TRAVELLER
Rencana liburan tahun baru ini
sudah direncanakan sejak 2 minggu yang lalu.
Kali ini kita ingin mengunjungi air terjun. Ait terjun ini masih natural bernama AIR
TERJUN KATOBUNG terletak di kecamatan Batang Lubu Sutam, Papaso desa Salambue
kabupaten Padang Lawas propinsi Sumatra Utara. Yakni perbatasan kabupaten Rokan
hulu dan padang lawas.
Keberangkatan
Kami yang tinggal di kabupaten Rokan
hulu provinsi Riau cukup dekat untuk mengunjunginya. Jadi sang ketua rombongan
sudah wanti-wanti melalui sms untuk bekumpul dirumahnya jam 7 pagi pada tanggal
2 Januari 2016 bertepatan dengan hari Sabtu.
Sang ketua rombongan juga kami minta sebagai pemandu, Sebenarnya dia
bukanlah pemandu profesional. Beliau adalah teman kami yang kami tetapkan
menjadi pemandu sebab beliau sudah
pernah ke air terjun itu sebelumnya.
Pertama sekali
yang kami lakukan adalah mengumpulkan dana.
Kami 9 orang mengupulkan uang Rp.
100.000 per orang. Itulah yang diusulkan sang pemandu. “Uang itu gunanya untuk membayar sewa boat
dan membeli makanan diperjalanan” tegasnya.
Uang itu sidserahkan kepada bendahara yang kami angkat dadakan.
Dalam
perjalanan. Kami singgah di rumah makan
untuk memesan nasi bungkus untuk makan siang.
Kemudian kami singgah lagi di super market untuk membeli makanan ringan
dan minuman.
Dari kota pasir pengaraian kami
tempuh perjalan via Bangun Purba sekitar 1 jam perjalanan menggunakan sepeda
motor. Sekitar jam 10:30 WIB kami sudah tiba di desa Salambue. Sang pemandu segera menghubungi pemilik
boat.
Sepeda motor kami parkir di rumah
pemilik boat tersebut. Untuk mengunjungi
wisata air terjun ini, kami tidak dikenakan biaya, karcis atau pungutan apapun
namanya. Kami hanya membayar biaya boat
Pulang Pergi sebesar Rp 300.000 yang dapat diisi 9 orang penumpang.
Kami juga
membawa kain ganti. Sebab apabila hendak mengunjungi air terjun sudah pasti
akan basah. setiap air terjun pasti berada diatas bukit,
tidak mungkin ada di dataran rendah.
Jadi bila ingin mengunjungi air terjun wajib mempersiapkan metal, fisik
bahkan obat obatan..sebab di areal air terjun ini tidak akan dijumpai warung
atau klinik.
Di aliran sungai menaiki boat
Aliran sungai
papaso yang cukup kecil lebarnya sekitar 3 sampai 4 meter. Kala itu aku mencelupkan tangan ku, terasa airnya sedikit
hangat. tidak sampai 50 meter air sungai itu bertemu
dengan sungai batang lubuh yang cukup besar. Sebab musim penghujan. Aku celupkan lagi tanganku airnya terasa
dingin.
Selama
perjalanan didalam boat dan suasana alam yang natural sepanjang tepi sungai
menambah nilai lebih. Melewati sungai
dengan boat membuat tantangan tersendiri menuju air terjun ini. Seperti berada di film-film dokumenter
saja.
Dalam
perjalanan melewati air sungai Batang Lubuh ini. Terasa so
exited. Aku duduk dibelang di dekat pemilik boat sekaligus sebagai nakhoda
boat. Kesempatan itu aku gunakan untuk
bertanya. “Pak apa itu?” aku menunjuk
sebuah benda terbuat dari besi. “Dahulu
kala sungai ini dijadikan tempat pencarian emas oleh masyarakat setempat. itu adalah alat mencari emas. pernah ada yang meninggal saat penggalian
emas. Beliau tertimbun tanah longsor”
ucap pemilik boat saat saya tanya tentang sebuah besi ber ukuran besar di tepi
sungai itu.
“Jadi sekarang apakah masyarakat
masih mencari emas di sungai ini?” tanyaku
Sudah tidak lagi. Sebab emasnya sudah mulai habis. Kalau pun
ada. Itu sagat dalam didasar sungai.
“bagaimana cara mencarinya pak”
tanyaku lagi
“Pasir di dasar sugai akan
disedot menggunakan pipa. Lalu pasir halus akan ditarik oleh pipa
tersebut. Kemudian di pasir itulah akan
ditemukan emas”
“Oh begitu”
Tapi akibat suara mesin boat yang
meraung keras membuat pembicaraan kami sedikit terganggu.
Tidak sampai
memakan waktu 40 menit. Kami telah sampai pada tujuan. Ternyata hari itu, bukan
rombongan kami saja yang datang mengunjungi air terjun itu. Terbukti disana sudah parkir beberapa boat
milik rombongan lain. Aku segera
mengabadikan dengan menjepret gambar rombangan kami yang terakhir turun. Yakni adik kandungku yang paling bungsu
bernama Laung.
Takjub mata
ini akan keindahan alam yang diciptakan sang pencipta. Ingin bersujud
sedalam-dalamnya. Meyaksikan air yang jatuh dari ketinggian sekitar 3 meter
lalu terpantul pada batu besar dibawahnya, lalu memancar kembali ke bawah.
Masha Allah sungguh indah!
Masih menurut pemilik boat. “Saat
musim kemarau air sugai ini akan menjadi dangkal dan airnya akan terlihat
tenang, jernih sehingga batu-batu di dasar sungai terlihat dengan jelas karena
dangkal. Jadi saat melewati sungai tadi menuju hulu. Kita akan turun 3 kali
dari boat dan mendorongnya sebab ada 3 daerah sungai yang benar-benar
dangkal” jelas.
“sungguh saya masih mau datang
kesini lagi saat musim kemarau dan merasakan sensasi mendorong boat” balasku
“Kalau memang ingin datang lagi,
datanglah lebih pagi. Saya akan
tunjukkan pertemuan 3 muara sungai kepada kalian. Tapi arealnya masih jauh dari air terjun
Katobung tersebut yang berada di hulu sungai” tantangnya
“Sungguh aku mau, aku mau” ucapku senang.
Lalu kami satu
persatu turun dari boat. Sedangkan sang
pemilik boat akan menunggu kami disitu. Bila mana kami hendak pulang. Sebab tidak ada jaringan handpone disekitar
areal itu. Kami segera memberikan nasi
bungkus yang kami beli diperjalanan kepadanya. Sebab ini sudah tengah hari
apalagi di daerah berair akan cepat merasa lapar.
Ternyata
petualangan tidak hanya sampai disini. “Masih
ada air tenjun di bukit itu yang lebih tinggi lagi.” Kata sang pemandu. “Tapi tidak usah khawatir tidak terlalu jauh
dan rute perjalanan tidak terlalu curam katanya.
Mendengar
penuturan sang pemandu membuat semangat kami semakin menggebu-gebu. “Tapi waktu
sekarang ini adalah waktu sholat zuhur.
Bagaimana? kita sholat dimana?”
protesku.
“Kita kan
sekarang musafir. Nanti shoalatnya kita jamak saja waktu azhar” ucap sang
pemandu. Membuat hatiku sedikit lega.aku memang membawa mukena. Tapi sepertinya
apayang disamapaikan pemandu masuk akal juga.
Kami
mulai menaiki tangga menuju bukit sekitar 11 anak tangga dari dalam
sungai. Aku yang mengajak adik
perempuanku dan adik laki-lakiku yang bernama Laung merasa aman. Sebab jika aku capek atau rute perjalanan
sulit, akan ada pertolongan dari mereka.
Nasi bungkus dan air minum dan
makanan ringan segera di tenteng oleh teman-teman yang laki-laki sedangkan kami
yang perempuan tidak dibebani apa-apa. Itu ide sang pemandu.
Ternyata
apa yang dikatakan pemandu, benar apa adanya, rute perjalanan cukup ringan bagi
traveler penjelah alam. Dan setiap ada
tempat yang unik, yang natural, aku langsung pasang aksi bak foto model ingin
dibidik camera. Adikku yang laki-laki
langsung tanggap mengambil potoku sebanyak-banyaknya. Sungguh dia selalu menjadi hero bagiku,
dimana saja.
Sepanjang
perjalanan menuju air terjun yang lebih tinggi lagi. sungguh tiada terasa lelah,
karena asyik menikmati banyak panorama seperti batu-batu besar yang memikat
yang membentang dihadapan. Air jernih
yang mengalir diatas bebatuan sangat memikat hati. Terkadang juga dasar air itu berupa pasir
halus berwarna kuning keemasan sungguh menakjubkan.
Tidak
sampai 30 menit kami berjalan kaki. Sang
pemandu lalu mengucapkan “Selamat Datang di air terjun Katobung dan selamat
menikmati keindahan Alam yang hanya mampu diciptakan tuhan” ucapnya sambil
tersenyum puas kearah kami.
Mata
kami lansung mendongak sekeliling. “Allahu Akbar” ucapku tatkala menyaksikan
air deras berjatuhan dari ketinggian. Itulah air terjun yang menjadi tujuan
kami. Aku perkirakan ketinggian air
terjun ini sekitar 10 meter hingga 15 meter.
Setelah kami
puas menikmati panorama air terjun yang sudah hampir satu jam lebih dan sudah
merasa puas tapi sebenarnya masih belum puas karena haripun sudah mulai petang,
disitupun udara sangat sejuk, dan kami sudah merasa kedinginan. Kamipun mulai
berkemas kembali untuk kembali pulang. Karena
udara sejuk dan air disekeliling kami menjadi lapar. Lalu kami makan nasi
bungkus bersama-sama.
Setelah puas mandi-mandi dan
poto-poto kamipun segera pulang ke lembah bukit. Dimana nakhoda boat sudah
menungu kami.
Satu minggu
sebelum keberangkatan tat kala sang pemandu memperkenalan air terjun ini kepada
saya. Saya langsung search di google
setelah mengetahui nama air terjun itu.
Dan ajaibnya tak satupun tulisan atau artikel yang muncul tentang air
terjun itu. Itu artinya. Wisata alam air tenjun ini belum ada yang
menulis. Lalu saya berjanji dalam hati “aku akan menjadi penulis pertama yang
memperkenalkan air tenjun ini kepada dunia.”
Sebab
itulah aku banyak bertanya kepada pemandu dan pemilik boat sepanjang
perjalanan. Aku mendadak jadi orang yang
paling cerewet dan ingin banyak tahu tentang area sekitar.
Diperjalanan
menuju pulang gerimispun datang. Bertambahlah dingin yang dirasakan. Sesampai ditempat kami turun dari boat saat
tiba. Boat kami berada di seberang
sungai. Dikarenakan gerimis boat yang
kami tumpangi tadi tidak mengenali kami.
Entah dia tidak melihat kami atau tidak mengenali kami lagi? Dikarenakan
baru sekali berjumpa dengan kami. Setelah
begitu lama menunggu datang abang yang satu lagi. Yang sudah hafal dengan wajah kami.
Sebab
ketika ke hulu ini kami memakai 2 boat.
Kami berbagi. Diboat yang satu
berisi 4 orang dan boat yang satu lagi 5 orang. Begitu lega perasaan kami
ketika menaiki boat menuju pulang kembali ke hilir. Namu saat kepulangan menuju hilir kami satu
boat saja semuanya.
Allahamdulillah
setelah sampai di desa Salambue. Kami
dipersilahkan mengganti pakaian dirumah sang pemilik boat. Setelah itu kami sholat ashar di jamak
takahir dengan sholat zuhur.
Setelah pamit kepada pemilik
boat. Kami segera pulang. Diperjalanan menuju pulang sang bendahara
melaporkan masih ada sisa uang sekitar Rp. 220.000 lagi. Kami mengusulkan untuk makan malam.
Kami
singgah di rumah makan eva yang terletak di kecamatan Rambah samo. Setelah makan dengan kenyang kami embali
kerumah masing masing. Kami tiba di
rumah sekitar pukul 20:00 WIB.
Artikel ini sudah di upload pada lomba travel mate...pada tanggal 29 Januari 2016..
this article uploaded to travelmate compatition..on 29th, january 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar