Selasa, 27 Oktober 2020

Bedah Buku "Trust Me I am a writer"

"Pantang menyerah dan berihktiar serta bersabar dalam menulis" 
(Arnita Adam)

Begitu banyak ide yang muncul di pikiran,  ingin sekali kita menuliskannya lalu kata demi kata kita rangkai menjadi kalimat seterusnya menjadi paragraf dan akhirnya menjadi sebuah tulisan.  

Namun  untuk menjadi sebuah tulisan seringkali kita mendapati hambatan dan rintangan sehingga membuat tulisan itu selalu kita tunda-tunda untuk menyelesaikannya dan akhirnya tulisan itu tidak pernah selesai menjadi sebuah tulisan.  

 Hambatan dalam menulis bisa saja datang dari mindset kita sendiri.  Misalnya dari segi waktu dimana saat itu kita begitu sibuk dan kita tidak bisa membagi waktu untuk menulis, sekali lagi jangan katakan sibuk sebagai alasan untuk tidak menulis karena terkadang tulisan selesai dikerjakan disaat kamu benar-benar sibuk dan disaat deadline sudah pada detik-detik terakhir. 

Bisa juga hambatan datang seperti kejadian pada kak April.  Dimana beliau merasa tidak punya bakat dan bla bla bla namun berkat keteguhan hati beliau dan terus belajar serta berjuang dengan membuat tulisan yang ikutkan dalam lomba, sehingga dengan sendirinya tulisan tulisan beliau  semakin berkualitas. Sehingga muncul rasa optimis dan rasa syukur serta kesungguhan beliau dalam menghasilkan karya yang memenangi berbagai lomba.  Bunda Muda April merupakan salah satu Role Model menjadi seorang penulis.     Dari sekarang mari kita bangun mindset yang positif dan optimis


 Terkadang juga masalah yang timbul seperti kejadian kepada saya yakni hilangnya tulisan yang dibangun dari awal dan hingga rampung akibat laptop diinstal ulang dan tidak dikopi atau tulisan kita ketik di HP Lalu Hp error membuat tulisan itu betul-betul hilhilang.
Nah disitu kita akan dihadapkan pada 2 pilihan mau berhenti atau masih mau mengulangi tulisan seperti cerita pendek  dalam  buku "Trust me I am a writer" pada halaman 40 yang berjudul “Melatih Kesabaran”  apabila kita berputus asa maka tulisan itu akan berhenti dan hilang kemudian tidak akan menjadi apapun tetapi ketika kita  tidak menyerah  memulainya dari awal akhirnya tulisan itu  selesai juga tentunya setelah bermunajat kepada Allah agar hati dikuatkan untuk menyelesaikan tulisan tersebut.

Sabtu, 10 Oktober 2020

Review Novel Dia Suamiku

  Lelaki bijaksana itu suamiku


 Judul                   : Dia Suamiku
 Penulis                : Reni Juniarti
 Penerbit              : CV biru Magenta media
 Tahun terbit        : Maret 2020
 Jumlah halaman : 311

 Dia suamiku sebuah novel Romance. Ketika Cinta telah ditakdirkan  tak ada seorangpun yang dapat memisahkan, dengan solusi agama Islam semuanya  berakhir dengan seimbang dan sejalan.

 Kisah novel ini menceritakan seorang gadis belia bernama Rindu, dalam hidupnya hanya mencintai Allah dan mencintai orang tuanya namun ketika takdir dan jodoh  dihadapkan kepadanya, Mampukah iya memilih jalan yang terbaik dan yang paling adil untuk 2 orang yang  mempunyai hubungan darah, dan  kedua lelaki tersebut sama- sama  mencintainya.

 Kisah cinta  yang penuh  konflik dimana antara dua lelaki,  ayah dan anak sama-sama mencintai orang yang sama yakni Rindu.    Permasalahan semakin menarik tatkala sang ayah  berhasil memperistri Rindu. Yang di skenario oleh takdir.
 Sang gadis Pasir Pengaraian itu menjunjung tinggi nilai-nilai agama Islam dimana setiap perempuan yang telah menikah dengan seseorang, maka anak-anaknya itu akan menjadi mahram bagi  perempuan tersebut.

 Dilema semakin membara antara ayah dan anak saling ingin memperebutkan cinta gadis tersebut sehingga mereka berdua sama-sama saling mencari perhatian agar bisa mendapatkan perhatiandan cinta tulus Rindu.
 Di sisi lain Rindu sangat taat dengan kaidah Islam di mana beliau harus patuh tunduk dan  kepada suami selama suami  berada di jalan  yang diridhoi Allah.

  Setelah menikah dengan sang ayah Rindu merasa bersalah bila dicintai orang lain terlebih lagi dicintai oleh anak kandung dari suaminya. Hal itulah yang membuat permasalahan menjadi rumit dan sekaligus menjadi unik.

Begitu gigih Rindu meyakinkan kepada  anak tirinya bahwa  cinta antara mereka adalah cinta terlarang, Jadi mereka harus kembali kepada fitrah masing-masing, dimana seorang anak tiri telah menjadi muhrim bagi Ibunya yang telah dinikahi ayahnya akhirnya dengan kegigihan gadis itu sang anak mau  mendengar nasehat sang ibu tiri terlihat dalam halaman 109   “Akhirnya Bang Bagas benar-benar berubah dia menepati janjinya hampir 3 bulan sejak kejadian itu kami hanya bertemu di meja makan waktu sarapan dan makan malam itu pun hanya sebentar dia pasti lebih dulu selesai dan meninggalkan meja makan duluan”

 Nah itu kutipan dari sadarnya   seorang anak tiri yang mencintai gadis yang dinikahi bapaknya.

Novel ini juga mengangkat bahasa lokal di mana beliau tinggal di daerah Melayu maka disini sering kita jumpai bahasa Melayu namun karena bahasa Melayu memang sangat berkorelasi dengan bahasa Indonesia jadi tidak masalah untuk dimengerti. 
Tak lupa pula penulis  mengangkat kebudayaan- kebudayaan lokal misalkan saja saat beliau terjebak di dalam sebuah supermarket di mana sedang terjadi perkelahian dan gadis belia itu turun tangan kemudian  memberitahu bahwa  ada kebudayaan lokal yang masih hidup  di daerahnya seperti tertulis di halaman 176. Aku sudah belajar silat sejak kelas 1 SD silat dalam bahasa melayu Rokan Hulu disebut silek.  Hampir semua jurus-jurus silat aku kuasai, mulai dari silek Melayu atau silek tigo  bulan, silat ini sering juga disebut silek kampuong, silek tondan, silek sendeng,  silek gajah bojuang, silek thariqat yang didirikan di Tanah Putih. 


Kisah ini semakin menarik dengan hadirnya seorang tokoh antagonis Kania yang mempunyai karakter bermuka dua dan pandai bersilat lidah. Ditulis  dalam alur maju mundur membuat novel ini semakin asyik untuk dibaca berulang-ulang. 

 Penulis sangat  mengagung-agungkan sebuah kehidupan yang harmoni serta berlandaskan syariat Islam akhirnya dengan solusi ajaran Islam semua bisa menerima kenyataan.  Baik Bagas sebagai anak tiri yang mencintai sang gadis maupun sang suami sebagai ayah yang mencintai sang Rindu sebagai istri. Meskipun ada ada satu dua  kata yang typo sama sekali tidak mengurangi nikmatnya membaca novel ini.  Saya sarankan novel ini tidak untuk dibaca anak berusia di bawah umur 17 tahun.

 Review oleh  Arnita Adam pada tanggal 10 Oktober 2020